Panglima Jilah Temui Prabowo, Bantah Isu Karhutla Kalbar dari Peladang Adat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 02:34:32 WIB
Panglima Jilah menyampaikan bantahan terkait isu karhutla di Kalimantan Barat saat menemui Presiden Prabowo di kompleks Istana Kepresidenan.

SEBARIS.CO.ID — Panglima Jilah menegaskan praktik perladangan tradisional tidak menyentuh lahan gambut yang rawan terbakar. Masyarakat adat justru memilih lahan mineral untuk menanam padi, dengan tetap mengedepankan kearifan lokal serta pengawasan ketat selama proses pembukaan lahan.

"Di Kalimantan Barat itu karhutla itu sebenarnya sudah sering terjadi, tetapi yang menjadi pemikiran kita itu peladang itu disalahkan. Jadi peladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya. Akhirnya peladang yang disalahkan. Tetapi sebenarnya orang berladang tidak di lahan gambut. Orang berladang itu di lahan mineral," ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan.

Logika Sederhana yang Kerap Terabaikan

Panglima Jilah menyayangkan masih banyak pihak yang keliru memahami pola pertanian masyarakat adat di Kalimantan. Tudingan yang mengarah ke peladang dinilainya tidak berdasar. Secara logika, mustahil petani menanam padi di lahan gambut yang tidak subur.

"Akhirnya menuduh peladang yang menjadi sumber asapnya. Tetapi bukan. Orang berladang ndak akan mungkin mau nanam padinya ke tempat yang gambut. Itu aja logikanya," tegasnya.

Isu Karhutla dan Beban pada Masyarakat Adat

Persoalan karhutla di Kalimantan Barat memang menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Namun, Panglima Jilah menekankan bahwa penyebab kebakaran kerap kali berasal dari aktivitas lain yang waktunya berbarengan dengan musim berladang. Akibatnya, masyarakat adat kerap menjadi kambing hitam.

Ia berharap pertemuannya dengan Presiden Prabowo dapat membuka wawasan pemerintah mengenai praktik pengelolaan lahan berkelanjutan yang telah dijalankan masyarakat adat secara turun-temurun. Menurutnya, kearifan lokal dalam membuka lahan justru menjadi bagian dari solusi pencegahan karhutla, bukan penyebabnya.

Pernyataan ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kabut asap bahkan telah melumpuhkan aktivitas belajar mengajar, dengan siswa dari tingkat TK hingga SMP diliburkan.

Pembeda Utama: Ladang Mineral vs Lahan Gambut

Inti dari bantahan Panglima Jilah terletak pada perbedaan karakteristik lahan. Lahan mineral yang digunakan untuk berladang memiliki tingkat mudah terbakar yang jauh lebih rendah dibandingkan lahan gambut yang kaya akan kandungan organik dan sangat rentan terhadap api, terutama di musim kemarau.

Dengan demikian, ia menilai fokus penanganan karhutla seharusnya diarahkan pada pengelolaan lahan gambut yang lebih ketat, bukan mengkriminalisasi aktivitas pertanian tradisional yang telah hidup berdampingan dengan hutan selama ratusan tahun.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pernyataan Panglima Jilah. Namun, pernyataan ini dipastikan akan menambah dinamika diskursus penanganan karhutla di tingkat nasional, terutama dalam menyusun kebijakan yang berpihak pada masyarakat adat.

Tags

Terkini