Waspada Pengendara Jakarta: Banyak Baterai Motor Listrik Berlabel Lithium Ion Ternyata Isi LiFePO4

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 05:06:43 WIB
Petugas bengkel memperlihatkan sel baterai LiFePO4 yang ditemukan di dalam motor listrik berlabel Lithium Ion.

SEBARIS.CO.ID — Persoalan akurasi data teknis kendaraan listrik roda dua kembali mencuat. Bukan soal performa mesin atau desain, melainkan informasi dasar yang seharusnya mudah diverifikasi konsumen: jenis baterai yang tertanam di motor mereka. Temuan di lapangan menunjukkan masih ada selisih antara tulisan di bodi dengan komponen asli di dalamnya.

Abdullah, pemilik bengkel Dolland Motor Electric, mengungkapkan praktik semacam ini cukup sering dijumpainya saat menangani servis dan perbaikan motor listrik. Ia memberi contoh nyata temuan di bengkelnya, di mana sebuah unit motor listrik dengan label jelas tertulis Lithium Ion ternyata menggunakan sel baterai LiFePO4 setelah casing dibuka.

"Memang banyak simpang siur. Ada yang ditulis di casingnya Lithium Ion, ternyata dalamnya LiFePO4. Banyak kejadian seperti itu," ujar Abdullah kepada Kompas.com.

Mengapa Perbedaan Jenis Sel Baterai Ini Penting?

Jenis sel baterai menentukan karakteristik dasar kendaraan, mulai dari bobot, kepadatan energi, hingga tingkat keamanan terhadap risiko kebakaran. Baterai berbasis NMC (Nickel Manganese Cobalt) misalnya, dikenal memiliki densitas energi tinggi sehingga bobotnya lebih ringan untuk kapasitas yang sama. Namun, material nikel di dalamnya membuat baterai ini lebih rentan terhadap thermal runaway atau peningkatan suhu ekstrem yang bisa memicu kebakaran.

Sebaliknya, baterai tipe LFP atau LiFePO4 menawarkan keamanan lebih baik karena tidak mudah terbakar. Konsekuensinya, bobot dan ukuran baterai menjadi lebih besar dan berat. Perbedaan fundamental ini berdampak langsung pada handling motor dan biaya penggantian komponen di masa depan.

Misinformasi dari Pabrikan Berpotensi Menyesatkan Konsumen

Menurut Abdullah, ketidaksesuaian ini menunjukkan adanya misinformasi yang disampaikan pabrikan kepada konsumen. Meskipun pembeli awam mungkin tidak terlalu memperhatikan detail teknis semacam ini, ia menegaskan pabrikan tetap punya tanggung jawab untuk mencantumkan informasi yang akurat pada produknya.

"Jadi banyak misinformasi dari pabrikan ke konsumen. Walau memang peduli apa konsumen tahu (baterai LFP, LiFePO4 atau NMC), tetapi setidaknya ditulis informasi yang tepat," tambahnya.

Persoalan ini menjadi catatan penting bagi industri kendaraan listrik nasional yang tengah berkembang pesat. Keakuratan spesifikasi bukan sekadar urusan administratif, tetapi menyangkut keselamatan berkendara dan ekspektasi biaya perawatan yang harus ditanggung pemilik. Dengan data yang transparan, konsumen bisa membuat keputusan pembelian berdasarkan pertimbangan yang lebih matang.

Tags

Terkini