SEBARIS.CO.ID — Yang membedakannya dari Xpander HEV adalah kehadiran fungsi motor disconnect—motor listrik diputus dari poros penggerak pada kecepatan tinggi untuk menekan kehilangan energi. Sistem ini juga memungkinkan mode listrik murni melaju hingga 121 km/jam sebelum mesin bensin mengambil alih. Baterai lithium-ion 1,1 kWh mengisi sendiri lewat energi pengereman dan mesin yang sesekali berperan sebagai generator; tidak ada colokan, tidak ada mode charging eksternal.
Empat kondisi kerja—listrik murni saat merayap, mesin sebagai generator, keduanya berpadu saat akselerasi, dan mesin terhubung langsung ke roda di kecepatan tinggi—berpindah otomatis. Hasilnya, tenaga datang secukupnya tanpa banyak terbuang.
Posisi di Lineup dan Target Pembeli: Bukan Pengganti Xforce Bensin
Mitsubishi menempatkan Xforce HEV sebagai lini teratas keluarga Xforce, bukan pengganti varian bensin. Di GIIAS 2026, mobil ini berdiri satu barisan dengan Xpander, Xpander Cross, Pajero Sport, dan Destinator—menandakan lini bensin Mitsubishi sudah dianggap matang, dan HEV adalah langkah berikutnya.
President Director PT MMKSI, Atsushi Kurita, menyatakan bahwa penyempurnaan ini lahir dari kebutuhan konsumen Indonesia yang terus berkembang. "Penyempurnaan yang kami hadirkan tidak hanya terlihat dari sisi desain dan fitur, tetapi juga diwujudkan melalui pengalaman berkendara secara menyeluruh yang menawarkan kenyamanan, rasa percaya diri, dan performa yang semakin baik untuk mendukung mobilitas sehari-hari," jelasnya.
Kalimat Rifat Sungkar soal mobil ini justru lebih membumi: "mobil ini akan dicintai sekali oleh ibu-ibu rumah tangga karena jarang isi bensin."
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli
Beberapa catatan penting sebelum Anda memutuskan:
- Harga belum diumumkan saat artikel ini ditulis—posisinya di atas Xforce bensin, tapi MMKSI belum membuka angka resmi OTR. Ini faktor penentu utama; jika selisihnya di atas Rp 60 juta, hitungan penghematan BBM jadi kurang menarik.
- Baterai 1,1 kWh terbilang kecil—mode EV murni hanya bertahan untuk manuver kecepatan rendah jarak pendek, bukan untuk meluncur jauh tanpa mesin menyala.
- Klaim 27,9 km/liter adalah kondisi ideal—di kepadatan lalu lintas Jakarta, ekspektasi realistis ada di angka 20-24 km per liter.
- Jaringan servis hybrid Mitsubishi—meski diproduksi di Indonesia, teknisi yang paham sistem full hybrid belum tentu merata di semua dealer daerah.
Verdict: Siapa yang Cocok dan Tidak
Xforce HEV jelas dirancang untuk pengguna harian dengan jarak tempuh tinggi—pekerja dengan rute Bekasi-SCBD, pengusaha yang keliling kota, atau keluarga yang sering road trip. Penghematan Rp 8 juta per tahun plus jarak tempuh 1.000+ km sekali isi adalah nilai jual yang nyata, bukan sekadar gimmick.
Namun jika kebutuhan Anda hanya untuk dalam kota jarak pendek—di bawah 30 km per hari—maka selisih penghematan BBM dengan varian bensin tidak akan signifikan, dan Anda mungkin lebih baik mempertimbangkan Xforce biasa atau menunggu harga resmi keluar sebelum memutuskan. Yang jelas, ini bukan mobil untuk mereka yang mencari sensasi akselerasi; motor listrik 255 Nm membantu respons awal, tapi karakter utamanya tetap efisiensi.