DKI JAKARTA — Ali Masykur Musa mengingatkan bahwa tema HUT ke-81 RI, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", bukan sekadar slogan. Baginya, ada mata rantai yang harus berjalan berurutan: kemerdekaan harus melahirkan kedaulatan, kedaulatan menghadirkan keadilan, dan keadilan membuka jalan menuju kemakmuran.
"Kedaulatan lahir ketika sumber daya tersebut dikelola menjadi kemampuan nasional melalui teknologi, jaringan, pembiayaan, dan kebijakan yang konsisten," tegas Ali.
Listrik sebagai Infrastruktur Peradaban
Di mata Ali, listrik bukan komoditas dagang biasa. Kehadirannya menentukan apakah anak-anak bisa belajar di malam hari, ekonomi desa tumbuh, atau industri berproduksi. Tanpa energi yang memadai, keadilan sosial hanya menjadi wacana.
Ia juga menyoroti potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia yang melimpah—matahari, air, panas bumi, hingga angin. Namun, memiliki sumber daya alam saja tidak cukup. Dibutuhkan teknologi, jaringan transmisi, pembiayaan, dan kebijakan konsisten agar potensi itu berubah menjadi kekuatan nasional.
Transisi Energi Harus Berwajah Manusia
Ali menekankan transformasi energi jangan hanya indah di atas kertas. Ia mencontohkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang harus mudah diakses dan memberi rasa aman bagi pengguna.
"Transisi energi harus mempunyai wajah manusia. Keberhasilan infrastruktur tidak hanya diukur dari keberadaannya, tetapi dari pengalaman orang yang menggunakannya," ujarnya.
Prinsip ini berkaitan erat dengan aspek keadilan. Pembangunan energi harus menjangkau pulau-pulau kecil dan daerah terpencil, bukan hanya kota-kota besar di Jawa.
Menghubungkan Potensi dengan Kesempatan
Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, pembangunan puluhan ribu kilometer sirkuit transmisi direncanakan untuk menghubungkan sumber EBT dengan pusat kebutuhan. Jaringan ini menjadi tulang punggung pemerataan energi nasional.
"Jaringan listrik bukan hanya bentangan kabel, ia menghubungkan potensi dengan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkas Ali.
Ia juga mengingatkan Indonesia jangan puas menjadi pasar teknologi energi asing. Kedaulatan sejati tercapai jika transformasi energi dibarengi penguatan industri nasional, mulai dari produksi komponen dalam negeri hingga pelibatan UMKM dalam rantai nilai ekonomi hijau.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, Ali melihat nilai tawassuth (jalan tengah), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan i'tidal (keadilan) relevan sebagai panduan membangun bangsa yang majemuk. Pancasila, menurutnya, adalah rumah bersama yang mempertemukan agama dengan kebangsaan serta hak individu dengan kepentingan kolektif.