SEBARIS.CO.ID — Angka itu merupakan hasil pembaruan data yang dihimpun tim penyelamat dari dua sumber berbeda. Media pemerintah China melaporkan 16 warganya tewas dan 546 lainnya hilang dalam bencana yang dipicu hujan ekstrem di kawasan Himalaya itu.
Otoritas Nepal mencatat 1.910 orang hilang dalam data terbaru. Sebanyak 562 di antaranya berada di Distrik Rasuwa, wilayah yang disebut sebagai daerah terdampak paling parah.
Operasi Pencarian Terkendala Akses Jalan di Gyirong
Di sisi perbatasan, pemerintah China mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor di Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Tibet. Operasi penyelamatan di lokasi tersebut terekam dalam foto yang dirilis kantor berita setempat pada Jumat (28/8).
Tim gabungan masih menyisir area terdampak untuk mencari korban yang belum ditemukan. Material lumpur dan bebatuan yang terbawa arus mempersulit pergerakan petugas di lapangan.
Korban Warga Asing dan Dampak di Kawasan Perbatasan
Dari 592 warga asing yang dilaporkan hilang, belum ada rincian resmi mengenai kewarganegaraan mereka. Konsentrasi pencarian terbesar saat ini berada di lembah sungai yang menjadi jalur utama aliran banjir bandang dari pegunungan.
Banjir ini terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir. Air bah menghanyutkan pemukiman, jembatan, dan fasilitas umum di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke dataran rendah Nepal dan Tibet.
Pemerintah Nepal Perbarui Data Korban Secara Berkala
Kementerian Dalam Negeri Nepal menyatakan angka korban masih bisa berubah seiring proses evakuasi dan identifikasi yang berjalan. Tim penyelamat dari berbagai negara dilaporkan telah dikerahkan untuk membantu pencarian korban di lokasi yang sulit dijangkau.
Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian masih berlangsung di beberapa titik yang terisolasi. Warga yang selamat telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara yang didirikan pemerintah setempat.