Menjelang Trump-Xi di Washington, AS Kaji Tarif Impor 7,5% untuk China

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:15:31 WIB
Pemerintah AS mengkaji penerapan tarif impor efektif 7,5 persen untuk produk China menjelang pertemuan Trump-Xi di Washington.

SEBARIS.CO.ID — Kebijakan itu dirancang agar tidak memicu eskalasi baru di tengah upaya kedua negara memperpanjang pakta gencatan dagang yang berakhir 10 November. Sumber Bloomberg menyebut tarif efektif 7,5% bisa diperoleh dari penetapan tarif lebih tinggi yang sebagian ditangguhkan. Durasi penangguhan masih dibahas, dan besaran final belum dikunci.

Angka ini signifikan karena menjaga total bea masuk era kedua pemerintahan Trump terhadap produk China tetap pada 20%, batas yang sebelumnya diterima Beijing dalam kesepakatan gencatan dagang. Langkah ini juga menjadi uji konsistensi Washington setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor sebelumnya.

Jadwal Penyelidikan dan Target Pertemuan 24 September

Penyelidikan berbasis Section 301 Trade Act 1974 yang diluncurkan Maret lalu menyasar lebih dari selusin mitra dagang utama AS, termasuk China. Pemerintah AS berharap hasilnya terbit sebelum Trump dan Xi bertemu di Washington pada 24 September.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Juli mengatakan penyelidikan kelebihan kapasitas lebih rumit dibanding kasus kerja paksa sehingga butuh waktu lebih lama. Ia menegaskan keterlambatan itu tidak ada kaitan dengan upaya mempertahankan gencatan dagang dengan Beijing.

Tarif Efektif vs Tarif Diumumkan: Strategi Menghindari Konflik Baru

Skema penangguhan sebagian tarif menjadi cara Washington menekan Beijing tanpa melanggar ambang batas kesepakatan. Dengan begitu, tarif yang diumumkan bisa lebih tinggi dari 7,5%, tetapi beban yang dibayar importir tetap sesuai batas yang disepakati.

Belum ada tanggapan resmi dari Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) maupun Kementerian Perdagangan China. Gedung Putih menegaskan setiap pengumuman tarif akan disampaikan langsung pemerintah AS dan menyebut laporan rencana tersebut tidak berdasar.

Pakta Dagang yang Menjadi Penopang Gencatan

AS dan China tengah membahas perpanjangan pakta perdagangan yang menetapkan gencatan selama satu tahun. Kesepakatan itu menjadi instrumen utama meredakan ketegangan dagang sejak tahun lalu, dan tenggatnya jatuh pada 10 November—kurang dari dua bulan setelah pertemuan Trump-Xi.

Urutan waktu ini menempatkan pertemuan 24 September sebagai momentum krusial. Jika tarif 7,5% diumumkan sebelum pertemuan, Beijing bisa datang dengan posisi defensif. Jika ditunda setelah pertemuan, Washington punya ruang negosiasi lebih luas.

Bagi pelaku pasar, angka 7,5% memberi kepastian bahwa tarif tambahan tidak akan melampaui batas 20% yang sudah berjalan. Namun ketidakjelasan durasi penangguhan dan skema final masih menyisakan risiko bagi rantai pasok manufaktur yang bergantung pada komponen China.

Pemerintahan Trump sebelumnya membatalkan tarif impor terhadap produk China dan sejumlah negara lain setelah keputusan Mahkamah Agung. Langkah terbaru ini menjadi sinyal bahwa agenda proteksionisme tetap berjalan, hanya dengan mekanisme yang lebih hati-hati secara hukum dan diplomatik.

Tags

Terkini